Today's Words

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim)

Sabtu, 15 September 2012

Move On!

Di pertemuan ke 3 ini saya belajar mengenai Images of Managing Change yang dibawakan oleh Pak John Welly. Well, honestly saya merasa pertemuan kemarin seperti ikut menonton acara motivasinya Pak Mario Teguh :D . Materi yang disampaikan sangat berbobot dan menginspirasi saya sampai-sampai halaman kertas yang saya gunakan untuk mencatat penjelasan Pak John Welly juga cukup banyak. 
Beberapa poin yang saya pelajari dari pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut adalah:
  1. Perubahan merupakan perjalanan emosi, jika kita meninjaunya dari sisi manusia (people). 
  2. Perubahan yang menghasilkan outcome dalam organisasi sendiri bisa terjadi karena direncanakan, setengah direncanakan, maupun tidak terencana. Dan jika kita melihat pada sisi images of managing, bentuknya bisa dikategorikan menjadi 2 yaitu: (1) controlling, yang lebih fokus kepada aktifitas dan output, (2) shapping, yang lebih fokus kepada pembentukan kapasitas/kemampuan orang-orang yang terlibat.
  3. Seorang agent of change harus bisa mengkomunikasikan harapan serta misi perubahan yang ia miliki kepada komunitas atau orang-orang yang ia harapkan bisa mengikuti jalan perubahannya. 
  4. Perubahan bisa disebabkan oleh tekanan dari dalam (internal) dan luar (eksternal) organisasi.
  5. Perubahan itu kadang harus dipaksakan, demi sebuah kebaikan atau kemajuan.
Jika direfleksikan dengan diri saya pribadi, poin ke 5 diatas mengingatkan saya dengan beberapa perubahan karena “paksaan” yang terjadi dalam kehidupan saya. Salah satunya adalah perubahan dari saya yang awalnya tidak bisa mengendarai motor , menjadi mahir mengendarainya. 
Ceritanya… Sampai selepas kuliah S1 saya masih belum bisa mengendarai motor. Padahal adik saya justru sudah bisa mengendarai motor 4 tahun sebelumnya. Gengsi pun muncul dan menjadi salah satu motivasi –baik- saya untuk belajar motor. “Masak adik bisa, aku gak bisa?”, pikir saya. Juga “Penjual sayur yang sekolahnya SD bisa naik motor, masak aku gak bisa”, sambil manas-manasi diri. Ditambah lagi waktu itu aktivitas diluar rumah saya sangat banyak. Kalau mengandalkan angkutan umum pasti tidak akan optimal. Nah, berbekal semua itu akhirnya saya memaksakan diri saya untuk berubah, untuk move on.
Gampangkah usaha saya untuk berubah ini? Tidak juga.. Pernah saya terjatuh dan nabrak trotoar, sampai motor lecet dan sayanya sedikit terluka. Tapi Alhamdulillah itu semuanya berbuah manis dan berbagai manfaat bisa saya dan orang-orang sekitar rasakan saat saya sudah bisa mengendarai motor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.