Today's Words

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim)

Senin, 16 April 2012

Break The Limit!

Yah, terjang semua keterbatasan diri yang Anda buat-buat sendiri!

Saya dari dulu pengeeennn banget berwirausaha. Hehe, mungkin karena terinspirasi dari ayah saya yang wirausaha. Dan saya pun telah mencoba beberapa kisah berwirausaha dengan berdagang..

Usaha pertama saya adalah menjadi agen pulsa. Saya melihat adanya pasar yang bisa menjadi konsumen saya, yaitu teman-teman kantor :D Saya pun berinisiatif menjual pulsa ke teman-teman kantor di Samarinda. Saya menerima pembelian pulsa via sms, yang uangnya baru dibayar saat kami bertemu di kantor. Usaha itu lumayan sukses. Namun semenjak saya pindah ke luar pulau, usaha ini terhenti. Sekitar setahun setelah saya berhenti menjadi agen pulsa, bandar pulsa saya ternyata juga menutup usahanya. Mungkin karena keuntungan yang didapat tidak seberapa dan sekarang beli pulsa bisa dilakukan dimana saja (seperti di ATM dan mini market).  Saya pernah beli pulsa Rp100.000,00 yang dijual juga dengan harga Rp100.000,00, di sebuah mini market. Waktu itu lagi masa promo, dan saya mendapatkan bonus gratis 2 botol minuman vitamin C seharga Rp6.800,00 per botol. Lebih murah dibanding beli di ATM ataupun counter pulsa kan? :D *prinsipekonnomi

Waktu di Pangkalpinang saya pernah coba untuk menjadi reseller produk cemilan jamur yang kebetulan pemilik usahanya adalah teman semasa kuliah. Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, saya berfikir resikonya terlalu besar karena saya benar-benar tidak ada waktu untuk mengurusnya. Modal yang diperlukan juga lumayan banyak. Tempat menyimpan stok barang dagangan juga tidak ada karena saya masih ngekos. Akhirnya saya batalkan niat saya menjadi reseller..

Kali ini saya di Bandung, mbak senior waktu kuliah S1 ternyata punya usaha mie organik. Mie yang dibuat dari campuran sayur-sayuran itu bebas pengawet, bebas MSG, dan tanpa pewarna. Wah, melihat manfaatnya yang sangat banyak dan keunikan karena masih jarang yang menjualnya di pasaran, saya jadi tertarik untuk menjadi resellernya. Saya akhirnya membeli paket sampel dan mengirimkan beberapa bungkus ke rumah. Sisanya, saya nekat membawa ke kampus dan menjual ke teman-teman di kelas :D

Yah, saya menantang diri saya untuk berjualan a.k.a berdagang. Saya merasa saya masih punya gengsi untuk berdagang, dan itu harus dilawan! Caranya? ya dengan berdagang ;) Saya menggelar dagangan saya ke teman-teman disertai mie tester yang telah matang. Haha... langsung deh diserbu mie testernya (bukan mie jualannya..wkwk). Tak lama dosen saya masuk dan melihat dagangan saya tergelar didepan pintu masuk. Eh, beliaunya malah melihat brosur, bertanya berapa harganya, dan akhirnya memborong 4 bungkus mie :D beliau bilang "Tanpa MSG kan ya?", "Iya Pak...", ucapku. Selembar uang Rp50.000,00 keluar dari dompet dan mengalir ke hadapanku. Senyum cemerlanglah saya :D Saya hargai 4 buah mie Rp29.000,00 dengan memberikan diskon Rp1.000,00 dari harga normalnya yaitu Rp30.000,00. Eh ternyata beliaunya gak mau terima diskonnya. Uang seribunya dikembalikan ke saya.. Kyaaa... Bapak baik banget.. ^^

Kali ini mungkin akan saya teruskan usaha dagang ini. Menawarkan untuk menitipkan mie di tempat-tempat strategis dan membagi keuntungan. Kata ayah, "siapa tau bisa jadi awal berwirausaha", hehe..
Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.