Today's Words

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim)

Kamis, 21 Maret 2013

Rezeki yang Berkah

Karena saya peduli...

Seorang sahabat menawari saya asuransi. Well.. yang sudah-sudah sih saya langsung tolak soalnya saya sudah dapat asuransi dari kantor saya. Tapi untuk yang ini tidak saya tolak. Setelah dipikir-pikir, kayaknya perlu juga tuh ilmu tentang asuransinya. Akhirnya saya bersedia untuk menerima penjelasan tentang asuransi yang diberikan dari sahabat saya itu.

Ia lalu meminta data diri saya: nama, tanggal lahir, dan fotocopy KTP. Saat ia membuat contoh perhitungan asuransi, saya bertanya apakah asuransinya syariah atau tidak. Well, ternyata bukan syari'ah. "Hhmm.. kalaupun harus memutuskan mengambil asuransi, aku pilih yang syari'ah, bukan yang konvensional. Tapi gak papa, kita lihat dulu yang konvensional gimana", gumam saya.

Uang, rezeki dari Allah yang patut disyukuri
Gak lama, hasil perhitungan asuransi mendarat di inbox email saya. Saya buka dan saya baca-baca tulisan diatas dua halaman dokumen Microsoft Word itu. Nominal manfaat yang dihasilkan dari premi asuransi saya ternyata cukup besar. Tapi setelah saya melihat kemana uang saya akan digunakan.. kening saya mengkerut. Ternyata mereka menggunakannya untuk membeli saham beberapa perusahaan yang salah duanya adalah saham bank konvensional dan saham perusahaan rokok. Wakwaawww... -_-

Saya kemudian komen ke sahabat saya tadi, "Wah, dipake buat beli saham perusahaan rokok ya? "
Saya tambahin, "Mungkin kalau asuransi yang syari'ah beli sahamnya bukan ke perusahaan rokok kali ya?".
Lalu dijawab, "Kenapa emangnya?".
Saya jawab, "Klo saya dibuat bantu beli saham perusahaan rokok, berarti saya pro rokok donk?? Hehe.."
Dan sahabat saya itu pun sepertinya speechless mendengarnya...

Yahh.. begitulah.. Ternyata masih ada beberapa orang diantara kita yang perlu pencerahan tentang bagaimana mengelola rezeki yang Allah kasih ke kita, dhi. uang. Dan buat saya, saya sangat peduli dari mana uang saya datang dan kemana uang saya pergi. Itu saya lakukan sebagai wujud syukur saya atas rezeki yang telah Allah berikan.

Jika mau flash back... Saya memiliki konsep yang sangat selektif salam memilih pekerjaan sebagai perantara mendapatkan rezeki. Saat dulu lulus kuliah S1, saya sudah komitmen untuk tidak bekerja di perusahaan rokok dan bank konservatif. Ya..pokoknya saya menghindari rezeki yang sifatnya subhat alias ragu-ragu, apalagi yang haram. Bekerja di perusahaan rokok, itu artinya saya ikut membantu para perokok membunuh diri mereka dan orang-orang disekitar mereka secara perlahan. Bekerja di bank konservatif?? Jelas banget, ada riba disana.. haram bu!


Halal dapatnya, harus halal juga keluarnya. Uang halal harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik. Saya berusaha agar tidak menggunakan uang saya sembarangan. Tak rela rasanya kalau uang ini menjadi penolong bagi maksiat orang lain. Misalnya ya tadi, beli saham perusahaan rokok dan bank konservatif. Selain itu, saya juga mencatat pengeluaran saya di dokumen Microsoft Excel di HP saya. Tiap bulan saya evaluasi. Oya, tak lupa ada jatah orang lain juga dalam rezeki saya. Zakat, infaq, sadaqah insya Allah tidak akan lupa.

Demikian uraian singkat saya tentang bagaimana harusnya kita mengelola uang yang kita miliki. Konsepnya: "Apa pun yang kita miliki harus bisa membantu kita untuk lebih dekat dengan Allah.." Entah itu rezeki berupa uang maupun mungkin ilmu. Seseorang pernah bilang ke saya "Ilmu yang berkah adalah ilmu yang mendekatkan diri kita dengan Allah". Well, berarti untuk rezeki bunyinya "Rezeki yang berkah adalah rezeki yang mendekatkan diri kita dengan Allah" :)

Wallahu'alam bishhawab.. Semoga Allah senantiasa membantu kita untuk istiqomah dijalan yang Ia ridhoi. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.