Liburan long weekend lebaran Idul Adha kemarin saya habiskan di Bogor. Sabtu jam 11an pagi ke Bogor, baliknya ke Jakarta hari Rabu pagi. Semuanya pake KRL.
Goes To Bogor
Berangkat ke Bogor saya sengaja menghindari jam berangkat sekolah karena takut sesak-sesakan di kereta. Eh ternyata perkiraan saya meleset. Jam 11an pun banyak orang yang menumpang di KRL. Lihat-lihat sekitar, ada beberapa yang habis mborong belanjaan dari Tanah Abang, trus ada juga beberapa anak sekolah yang sepertinya mo maen ke tempat temannya di Bogor. Tau saya, soalnya mereka rame ngobrol-ngobrol di kereta. Hehe..
Yahh.. dan sehubungan dengan sesaknya penumpang, dan tidak ada yang mau memberikan kursi ke saya (padahal sudah ngelus-ngelus perut supaya kelihatan kalau lagi hamil, sayangnya lagi hamil muda perutnya belum kelihatan gede), akhirnya saya terpaksa berdiri *sedih*. Tas punggung dan dua tas cangklongan saya taruh di bagasi di atas kursi penumpang.
Tau gak? ada satu penumpang KRL yang bandel banget mempertahankan kursinya meski disekitarnya banyak yang lebih berhak. Dia adalah seorang anak muda, laki-laki, berbadan agak makmur, yang duduk di kursi paling ujung dekat pintu keluar, persis di depan saya. Meski ada nenek-nenek dan cucunya berdiri disampingnya, meski dikelilingi penumpang cewek yang berdiri, meski ada seorang ibu muda yang menggendong balita, anak itu tidak bergeming sedikitpun sampai ke stasiun Bogor. Sepanjang perjalanan dia hanya menunduk sambil sesekali tidur dan mainan HP. Ckckck... Sampe ada anak-anak cewek sekolahan nyindir-nyindir dia, tuh anak gak ngefek juga..wkwk.. Okeh positif thinking aja. Mungkin dia sedang sakit sehingga harus duduk sepanjang perjalanan. Hehe..
Back From Bogor
Jam 6 pagi saya dan suami meluncur dari Dramaga ke Stasiun Bogor. Kami memperkirakan bisa dapat kereta yang agak sepi karena sudah melewati jam orang brangkat kantor. Namun ternyata lagi-lagi meleset. Nyampek di stasiun jam 06.30, trus disambut dengan antrian panjang penumpang yang mo beli tiket KRL. Innalillahi....panjang banget antriannya x_x Jam 07.15 saya baru bisa mendapatkan tiket setelah berjuang berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Bayangkan, dari 15 loket yang tersedia, yang dibuka untuk menjual tiket tidak lebih dari 7 loket. Satu loket bahkan bisa diantri oleh 3 jalur. Ckckck...
Setelah mendapat tiket, dengan pinggang dan kaki pegel-pegel karena kelamaan berdiri dan membawa tas punggung berisi laptop, saya bergegas ke kereta menuju Jakarta. Agak riweuh juga dengan bawaan yang saya bawa. Selain tas laptop, saya juga membawa satu tas jinjing yang isinya antara lain madu 640ml dan lotion 200ml. Fiuhh...
Terpaksa ambil kereta yang berangkat jam 07.42 karena kereta yang mo berangkat segera, sudah penuh berjubel penumpang. Saya melihat rangkaian gerbong wanita, dan ya..tempat duduknya sudah penuh. Saya lalu memutuskan masuk gerbong umum dengan harapan ada laki-laki yang mau memberikan kursinya kepada seorang wanita yang kelelahan membawa dua tas berat itu *memelas*. Daannn...lagi-lagi perhitungan saya meleset. Yup, mereka membiarkan saya berdiri! Hufhh kejamnyaa.... *_*
Kereta sudah mau berangkat dan semakin banyak saja penumpang yang masuk gerbong saya. Tas laptop sudah di bagasi atas, dan tas satunya saya tarus dilantai didekat kaki saya. Masuk ke stasiun berikut...dan berikutnya.. bukannya berkurang, malah bertambah penumpang yang berjejal di gerbong. Udah bener-bener kayak sarden! Saya udah hampir nangis dan sempat berpikir untuk keluar di stasiun berikutnya dan berganti ke kereta selanjutnya. Tapi, emang yakin akan ada kereta selanjutnya yang agak lowong dan saya tidak perlu menunggu lama?? Secara saya harus segera sampai di Kalibata sebelum jam 9 pagi.
Saya bertahan.. meski dengan kekhawatiran besar atas si kecil dalam rahim saya yang baru berusia 7 minggu. Sepanjang perjalanan saya mengandalkan tangan kiri saya yang berpegangan pada tiang di atas. Sementara tangan saya melindungi badan agar tidak terlalu nempel dengan penumpang lain. Saya isi dengan dzikir... dzikir... dan memasrahkan semuanya kepada Allah.
Alhamdulillah..saya bertahan sampai stasiun Kalibata. Keluar dari gerbong, saya langsung berjalan ke arah kursi yang ada sambil mengatur nafas dan melepas lelah... Ya Rabb....
Gini deh nasib ibu hamil muda alias bumilda. Mentang-mentang perutnya blom keliatan gede, jadi orang-orang gak ada yang kasihan dan memberikan saya kursi. Padahal hamil muda kan justru lebih rawan ya ketimbang yang udah hamil agak senior alias tua? Mo meminta-minta kursi sambil bilang "Bapak-bapak, ada yang bisa kasih saya kursi? Saya lagi hamil...", kok ya gak berani dan sungkan. Takutnya malah dikira bohong karena perut masih belom gede. Hikss..
Dari stasiun, saya memutuskan untuk naik ojek aja ke pusdiklat. Udah gak tega ngerasain capek selama berdiri di kereta dan merasakan daerah sekitar perut saya yang kayaknya ikut capek juga selama di perjalanan tadi. Sampai di lokasi, saya langsung tepar di kursi, menyandarkan punggung, dan melepas lelah.
Dan... terjadi juga apa yang saya khawatirkan... Menjelang shalat Dhuhur, saya ke toilet dan menyadari bahwa saya sudah mengeluarkan flek. Panik lah saya...
#bersambung...
*KRL --> Commuter Line
**bumilda = ibu hamil muda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.